Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | November 17, 2016

Karna; Sang Martir ataukah Sang Oportunis?

Dalam pertemuan agung Kerajaan Astina menjelang kedatangan duta Pandawa, Prabu Kresna, yang datang untuk meminta hak Pandawa kembali. Prabu Duryudana telah meminta pendapat para sesepuh dan penasehat Astina tentang apa yang harus dia lakukan. Resi Bhisma berpendapat dengan ekstrim, yaitu meminta seluruh wilayah Astina dan Amarta dikembalikan kepada Pandawa. Satu usul yang jelas akan ditolak oleh Duryudana. Pandita Dorna berpendapat untuk membagi dua wilayah, yaitu dengan mengembalikan Amarta kepada Pandawa dan Astina tetap menjadi milik Duryudana. Usul yang sebenarnya paling masuk akal untuk diterima. Selanjutnya Prabu Salya, Raja Mandaraka, yang juga mertua Duryudana berpendapat selaras dengan Resi Bhisma. Tetapi, dia memberikan solusi yang konkrit, karena menawarkan Kerajaan Mandraka untuk dipimpin oleh Duryudana. Lagi pula, menurut Salya, luas wilayah Mandaraka tidak kalah dengan Astina baik dari segi kekayaan maupun jajahan.

karna

Adipati Karna

Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | November 7, 2016

Ringkasan Buku Rekayasa Sosial karya Jalaluddin Rakhmat (II)

Setelah 4,5 tahun berlalu akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan untuk menulis kembali bagian 2 dari ringkasan buku Rekayasa Sosial karya Jalaluddin Rakhmat. Nah, kira-kira dari jarak waktunya maka 4,5 tahun lagi bagian 3 baru akan saya ringkas. Ya semoga tidak selama itu.

Baiklah mari kita mulai

Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | Oktober 19, 2016

Sejenak Membicarakan Rindu

Setelah lama tidak membaca novel, entah kenapa suatu waktu ada novel milik teman sekantor yang tertinggal. Mungkin karena memang waktu itu sedang butuh hiburan, maka saya putuskan untuk membaca novel itu. Novel karangan Tere Liye berjudul “Rindu”. Sebenarnya sewaktu masih di Gunung Pati, sering sekali melihat tumpukan novel karangan Tere Liye. Namun kali ini, rasa-rasanya kok waktu itu saya merasa harus membaca buku sastra, dan kebetulan dihadapan ada novel ini, tentu dengan seijin empunya setelah membaca beberapa lembar awal sebagai langkah penjajakan.

cover-rinduTentu saja saya merasa tidak berkompeten untuk memberikan penilaian atau pun resensi tentang novel ini, kecuali diminta guru bahasa Indonesia mengerjakan tugas. Hehehe…… Tapi, mungkin sedikit-sedikit boleh kan?

Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | September 7, 2016

Restart Balotelli

Akhirnya, setelah tidak jelas siapa yang mau menampungnya, Mario Balotelli mendapatkan klub baru. Kali ini klub ini berbeda dengan klub-klub yang pernah dia bela sebelumnya. Balotelli, biasanya, akan bermain di klub-klub besar. Atau di klub-klub dengan reputasi besar, atau klub dengan dana besar. Dia pernah membela Internazionale, The Citizens, AC Milan, dan Liverpool. Tentu nama-nama klub ini akan lebih sering dan lebih akrab di telinga para pecinta sepak bola daripada OGC Nice, klub yang bermain di kasta pertama Liga Perancis. Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | Juni 16, 2016

Ekonomi Pengabdian Bernama Wiyata Bakti

Istilah ekonomi pengabdian adalah suatu istilah baru bagi saya. Bermula ketika teman saya curcol di dinding facebooknya. Dia mengucapkan selamat atas rekan-rekannya yang bulan ini akan menerima tiga kali gajian. Teman-teman yang dia maksud adalah para rekan guru PNS. Dia juga bercerita tentang keputusannya untuk tidak melanjutkan wiyata baktinya di suatu sekolah dasar, karena realitas yang dia hadapi. Gaji yang dia terima sebagai guru wiyata bakti tentu tidak cukup, karena dia sudah seorang kepala dan memiliki anak. Apalagi dia tidak bisa mencari penghasilan sampingan, karena harus jadi admin dapodik sekolah. Soal admin ini saya cuma mengira-ira.
Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | Maret 13, 2016

Mbah Tami Menggendong Rezeki

Di tengah pesatnya kemajuan alat transportasi, di tengah pekerjaan-pekerjaan manusia yang semakin dimudahkan dengan berbagai penemuan-penemuan. Ternyata masih ada sebagian dari kita yang masih bertahan sekuat tenaga, berusaha terus mengepulkan asap dapurnya dengan berprofesi sebagai buruh gendong.

Mbah Tami, merupakan salah seorang buruh gendong di Pasar Tawangmangu. Meskipun usianya sudah menganjak 70an tahun, dia masih setia menggeluti profesinya. Mbah Tami mulai bekerja sebagai buruh gendong semenjak anak pertamanya berusia 40 hari. Demi membantu suaminya, yang waktu itu bekerja di ladang. Penghasilan yang kurang mencukupi kebutuhan keluarga, membuat dia bertekad untuk meringankan beban sang suami. Apalagi dia tidak memiliki ladang sendiri untuk digarap, sehingga dia memutuskan untuk tetap menjadi buruh gendong.

Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | Desember 16, 2015

Masih tentang Demokrasi

Indonesia baru saja merayakan pesta rakyat. Tepatnya tangal 9 Desember 2015, dilaksanakan pilkada serentak untuk pertama kalinya. Di setiap daerah, rata-rata ini adalah kali kedua mereka memilih secara langsung para pemimpin daerah.

Akan tetapi, banyak fenomena-fenomena “unik” yang terjadi di beberapa daerah. Ada pilkada yang diikuti oleh dua orang pasangan calon, dimana calon bupatinya merupakan istri pertama dan istri kedua dari bupati sebelumnya. Ada juga karena suaminya sudah habis dua periode, istrinya maju sebagai calon bupati. Dan berbagai fenomena “unik” lainnya yang terjadi. Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | September 21, 2015

Istimewanya Haji, Catatan Pinggir

Di pagi hari tanggal 16 September 2015 kemarin, alun-alun Kabupaten Wonogiri dipenuhi dengan banyaknya kendaraan roda empat. Mereka adalah kendaraan yang mengantar rombongan haji dari kabupaten Wonogiri, baik calon jamaan haji maupun sanak saudaranya yang mengantar.

Ya, ibadah haji memang memaksa kita memberikan tempat tersendiri dalam menyikapi dan melaksanakan. Ibadah haji tentu saja dengan jelas terlihat begitu istimewa di mata muslimin di Indonesia, jika dibandingakan dengan rukun Islam yang lain. Keistimewaan itu muncul karena memang keadaan membuatnya demikian. Dan kenapa saya tertarik membahasnya, itu karena kebetulan kedua orang tua saya tahun ini, 2015, berangkat ibadah haji. Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | Agustus 5, 2015

Sakit dan Syukur

Teringat akan sebuah syair yang dinyanyikan oleh edcoustic. Sebait syair yang menggambarkan tentang sebuah do’a dan harapan terhadap rasa sakit yang diderita.

“..sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku…”

Tentu saja ini beradasar pada hadits dari Rasulullah saw.

Baca Lanjutannya…

Oleh: bin Sugeng bin Tarno Suwito | April 29, 2015

Muhasabah dan Pilar-pilarnya

Siapa pun yang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak lepas dari empat persinggahan, yaitu al-yaqzhah, al-bashirah, al-fikrah dan alazm. Empat persinggahan ini tak ubahnya pilar bagi suatu bangunan. Perjalanan tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan melewati empat persinggahan ini, tak ubahnya perjalanan secara nyata yang harus melewati beberapa etape. Orang yang hanya menetap di kampung halaman-nya, tidak berpikir untuk mengadakan perjalanan kecuali dia sadar dari kelalaiannya untuk mengadakan perjalanan. Jika sudah memiliki kesadaran, maka dia harus mengetahui segala urusan tentang perjalanannya, bahaya, manfaat dan kemaslahatannya. Kemudian dia berpikir untuk mengadakan persiapan dan mencari bekal. Kemudian dia harus memiliki tekad yang bulat. Jika tekad dan maksudnya sudah bulat, maka dia mulai beralih ke persinggahan muhasabah, atau memilah antara bagiannya dan kewajibannya. Dia boleh mengambil apa yang menjadi bagiannya dan harus melaksanakan kewajibannya. Sebab dia akan mengadakan perjalanan dan tidak akan kembali lagi.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori